Home » Travel » Tiwo Wali Di NTT, Air Terjun Raja

Tiwo Wali Di NTT, Air Terjun Raja

KACAMATA Audax Aditya (26) dipasang di kepala, kamera dan baju renang disimpan di tas pinggang. Pemuda yang berasal Jakarta itu hendak menuju Tiwu Wali, air terjun di Desa Ruis, Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Bahkan, sebagian besar orang Manggarai tak tahu keberadaan air terjun itu, apalagi mitos di balik keindahannya.

Saat itu, Audax sedang berlibur di kampung tempat ayahnya dilahirkan di Manggarai. Bersama seorang sepupunya, Audax membawa motor menuju Tiwu Wali. Sepupunya, Konstantino Renaldi Lagu (23) atau yg disapa Aldi, adalah sesuatu dari segelintir orang yg mengetahui keberadaan air terjun itu.

”Lebih baik tiba sore hari karena tak banyak orang yg pergi mandi. Lokasinya bagus bagi foto-foto dan berenang,” ujar Aldi kepada Audax, Kamis (28/6/2016).

Dengan memakai sepeda motor, mereka berdua beranjak dari rumah menuju Desa Ruis. Dari Kota Reok menuju Desa Ruis menghabiskan waktu selama 30 menit, terdapat jalan setapak sekitar 200 meter dari pertigaan Dusun Wae Belang. Jalan berbatu dan berlumpur itulah jalan menuju air terjun.

”Jalan setapak itu lalu tak ada, jalan itu dibuat oleh orang yg pergi berkebun, jangan berharap jalan beraspal, bertahun-tahun, ya, jalannya seperti itu,” kata Aldi layaknya seorang pemandu wisatawan.

Di ujung jalan setapak terdapat tangga menurun. Tangga itu dibuat dengan sangat terpaksa, kelihatan dari susunan batu yg tidak beraturan. Setelahnya, terdapat jalan setapak menurun sepanjang 100 meter sampai akhirnya datang di Tiwu Wali.

Udara kota Reok yg panas tidak terasa di tempat itu. Teduh. Pohon-pohon bambu dan pohon besar lainnya berkeliling tempat tersebut. Semuanya hijau.

Tiwu Wali dibagi dua. Tempat pertama terdapat air terjun kecil dengan ketinggian sekitar 2 meter. Adapun di tempat kedua terdapat beberapa air terjun dengan ketinggian masing-masing berkisar 6-7 meter.

Di kaki air terjun terdapat danau kecil dengan kedalaman sekitar 6 meter. Airnya hijau bercampur biru, di sisi kanan dan kiri dipenuhi batu-batu besar.

Air terjun pertama ditemani batu-batu bersusun di sebelah kanannya. Susunan batu-batu itu menjadi seperti tangga, mengingatkan pengunjung pada susunan batu di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Jenis batunya pun kelihatan sama.

”Orang di sini juga heran dengan susunan batu seperti itu. Jenis batunya juga hampir tak ditemukan di mana pun di sekitar sini,” ungkap Yohanes (23) warga Dusun Golo Sita, Wae Belang, kampung sekitar air terjun yg kebetulan sedang pulang berkebun.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter