Home » Otomotif » Standar Euro-4 Bikin Industri Otomotif Lebih Efisien

Standar Euro-4 Bikin Industri Otomotif Lebih Efisien

Industri otomotif Indonesia menolak usulan yg meminta Indonesia segera loncat mengadopsi standar emisi Euro-6 dari Euro-2 yg diadopsi sejak 2003. Indonesia lebih baik adopsi Euro-4 lebih lalu supaya industri otomotif lebih efisien dari keadaan sekarang.

Kukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), berpendapat Indonesia sebaiknya tetap mengadopsi standar Euro-4 lebih lalu ketimbang loncat ke Euro-6. Sebab pemerintah yg dipimpin Presiden Jokowi ingin mengadopsi Euro-4 segera. Selain itu, standar Euro-6 memiliki persyaratan dan spesifikasi tertentu yg berbeda cukup signifikan dari Euro-4.”Kami telah berdiskusi dengan pemerintah soal penerapan Euro-4 sejak beberapa bulan lalu. Kalau berubah ke standar Euro-6, sulit lagi mengalihkannya karena melibatkan banyak pemangku kepentingan di republik ini,” kata Kukuh kepada Merdeka.com, usai memberikan informasi pers soal pameran otomotif GIIAS 2016 di Jakarta, Kamis (28/7) sore.Sebelumnya Komite Penghapusan Bensin Bertimbal menyarankan Indonesia sebaiknya mengadopsi standar Euro-6 pada 2021/2022, ketimbang Euro-4. Sebab Indonesia mulai semakin tertinggal dari Thailand, yg telah mengadopsi Euro-4 sejak 2012. Berkat mengadopsi Euro-4 lebih dahulu, Thailand memimpin pasar otomotif di Asia Tenggara dengan volume ekspor produk otomotif mencapai 2 juta unit per tahun. Sedangkan Indonesia cuma 200 ribu unit karena baru adopsi Euro-2.Kata Kukuh, industri kadung mengusulkan standar Euro-4 kepada pemerintah, yg diterapkan dengan usulan skema 2 plus 4. Maksudnya, buat mobil produksi baru diberikan waktu penyesuaian selama 2 tahun. Sedangkan buat mobil yg telah diproduksi/eksisting diberikan waktu selama 4 tahun.Selain itu, standar euro-4 diperlukan supaya tercipta efisiensi di industri otomotif Indonesia. Karena selama masih mengadopsi Euro-2, industri Indonesia memproduksi beberapa produk otomotif berbeda buat pasar domestik dan ekspor. Produk buat pasar domestik masih memakai standar Euro-2, sedangkan pasar ekspor telah standar Euro-4. Saat ini memiliki kapasitas produksi otomotif Indonesia 1,9 juta unit, tetapi yg disalurkan ke pasar domestik 1 juta unit dan pasar ekspor 200 ribu unit. Jadi ada sisa 700 ribu unit.”Berbahaya seandainya segera loncat ke Euro-6. Belum lagi kesiapan Pertamina menyediakan bahan bakar berstandar Euro-6. Mobil-mobil di Jakarta mampu mogok seluruh seandainya segera adopsi standar Euro-6,” ujar dia.Kukuh tak khawatir pasar ekspor tak mulai tertutup buat produk otomotif Indonesia meskipun baru menerapkan standar Euro-4 di masa mendatang. Atau seandainya pasar ekspor mulai menerapkan standar lebih tinggi dari Euro-4 di masa depan. “Masih ada peluang buat Indonesia meskipun belakangan menerapkan Euro-4.”Tuntutan terhadap mesin beremisi rendah semakin tinggi, karena lebih ramah lingkungan, termasuk mesin berstandar Euro-6. Mesin standar Euro-6 membutuhkan kualitas bahan bakar tinggi supaya terjadi pembakaran sempurna sehingga hemat konsumsi bahan bakar.Baca juga:
Nissan selalu cari pemecah rekor balap tercepat di GT Academy 2016
Pertamina happy lantaran konsumen lebih suka beli Pertamax Series
Gagal di Euro-2, industri otomotif Indonesia baiknya adopsi Euro-6
Honda perluas jaringan di Sulawesi Selatan

Sumber: http://www.merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter