Home » Travel » Sarapan Kopi Mentega Ala “Tahun 70-an” Di Singapura

Sarapan Kopi Mentega Ala “Tahun 70-an” Di Singapura

SINGAPURA, KOMPAS.com – Singapura ternyata tidak hanya menawarkan tempat ngopi modern yg terletak di pusat perbelanjaan mewah sekitar Orchard Road. Masih ada tempat ngopi yg klasik, bernuansa ala tahun 1970-an dan rutin dikunjungi orang-orang tua yg saling berbincang dalam Bahasa Mandarin.

Nama tempat ngopi yg aku maksud adalah Heap Seng Leong. Ini yaitu kopitiam klasik yg telah berdiri di salah sesuatu sudut pusat makanan dan buah North Bridge Rd, Singapura, sejak 41 tahun lalu. Bentuknya tetap saja seperti masa lalu, tidak ada hal yg dapat dibandingkan dengan kedai modern yang lain di sana.

Bahkan dapat dikatakan ini yaitu salah sesuatu artefak kopitiam tradisional yg masih tersisa di Singapura. Sedangkan di berbagai sudut Negeri Singa ini, rata-rata kedai kopi menggunakan mesin espresso, koleksi alat-alat manual brew, menyediakan internet, dan AC bagi kenyamanan.

Begitu melihat Heap Seng Leong, singkat kata, Anda mulai ragu bahwa mereka memiliki menu kopi yg enak. Bisa jadi, bila ini kunjungan pertama, Anda malah ragu sedang berada di sebuah kedai kopi.

Di Heap Seng Leong tidak ada hembusan AC yg dingin atau desain ruangan berkonsep industrial. Cuma meja kayu bulat, kursi kayu atau plastik, pintu yg terbuka lebar dan kipas angin dengan suara berderit yg bergelantungan di plafon. Jangan pula berharap ada koneksi internet. Di kedai ini orang-orang saling mengobrol, bukan memainkan gadget.

Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Kopi di Heap Seng Leong dibuat dengan cara menyaringmemakai kain khusus, sehingga dapat dinikmati tanpa ampas.

Pemilik sekaligus penjaga Heap Seng Leong adalah seorang kakek tua dan anaknya. Mereka tidak banyak bicara. Bahkan cuma menjawab sepatah-patah kata saja ketika ditanya.

Sang kakek, yg sepertinya telah berusia lebih dari 70 tahun, mengenakan sebuah celana pajama bermotif garis biru dan kaos singlet warna putih. Tak ada celemek, kaus, penutup kepala, atau atasan yang lain khas seorang barista di coffee shop franchise.

Saat berkunjung ke sana, aku sempat merasa kikuk dan bingung. Semua mata memandang aku yg nyelonong masuk dan mendekat ke sudut berisi rak dan meja bagi membuat kopi.

Excuse me. Do you have coffee? I mean kopi Gu You or butter coffee.(Permisi. Apakah Anda milik kopi? Maksud aku kopi Gu You atau kopi mentaga),” ucap aku dengan bahasa yg terpatah-patah.

Beberapa detik hening. Beberapa orang tua yg sepertinya seperti pelanggan rutin, masih melirik ke arah saya. Pria berkaus biru yg sedang memegang gelas, di sudut tempat pembuatan kopi itu, bertanya balik.

Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Suasana kopitiam Heap Seng Leong ketika aku berkunjung ke sana, Rabu (29/6/2016)

Coffee (Kopi)?” ujarnya dengan wajah bingung.

Entah dia mengerti kata-kata aku atau tidak, aku mungkin kelihatan seperti antitesis mayoritas pengunjung di kopitiam itu. Saya adalah pria muda mengenakan kemeja hitam yg rapi baru disetrika, menenteng kamera, rambut panjang digerai. Sedangkan pengunjung lainnya rata-rata kakek-kakek usia 60 tahun, berkaus oblong atau polo shirt.

Yeah, I mean butter coffee. You have it, right? (Ya, maksud aku kopi mentega. Anda punya, kan?)” lanjut saya.

Dia pun mengangguk dan menjawab, “Yeah, butter coffee. One or two? Bread? Toasted bread? (Ya, kopi mentega. Satu atau dua? Roti? Roti panggang?)”.

Oke. Komunikasi kita telah terjalin. Setelah kikuk selama dua detik itu, akhirnya kita saling memahami dan dia akan membuat pesanan aku tanpa bicara sepatah kata pun. Segelas butter coffee dan beberapa piring roti panggang.

Kopi Hitam Kekuningan

Saya membayangkan betapa kopitiam ini begitu keras dan tidak mau berubah menyesuaikan berbagai tuntutan zaman. Berjualan kopi selama 41 tahun bukan waktu yg singkat, bukan? Apalagi melakukannya tanpa menyelipkan perubahan.

Saat berkunjung ke kedai kopi ini, aku dan mungkin Anda suatu ketika nanti, masih mulai menemukan kakek tua bercelana pajama yg sama. Entah sampai kapan.

Sementara itu, kopitiam yang lain yg milik wujud seperti Heap Seng Leong rata-rata telah menghilang atau bertransformasi dengan mendirikan berbagai cabang dan franchise di segala dunia. Sebut saja Killiney Kopitiam atau Ya Kun Kaya Toast, beberapa contoh kopitiam populer Singapura kini gampang ditemukan di Indonesia dan dua penjuru dunia dalam bentuk franchise atau cabang.

Selain kopitiam seperti beberapa merek tersebut, penyaji kopi yg yang lain adalah micro roastery seperti Highlander atau Nylon dan kedai besar sejenis Starbucks. Penyaji kopi yg disebut belakangan ini milik konsep berbeda dengan biji-biji kopi dari berbagai belahan dunia.

Lamunan aku tuntas ketika kakek bercelana piyama itu selesai membuat pesanan dan mengantarkannya ke meja saya. Segelas butter coffee atau dikenal juga sebagai kopi Gu You. Rasanya manis dan berlemak. Tentu saja, kopi ini memang sengaja dicampur dengan unsalted butter atau mentega tawar yg meleleh seiring menyentuh minuman panas tersebut.

Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Sepiring roti panggang bersisipkan butter dan segelas kopi butter dari kopitiam Heap Seng Leong.

Lelehan butter memberi nuansa kuning pada segelas kopi yg disajikan. Ada sedikit campuran susu juga. Sedangkan bodi kopi masih terasa dalam intensitas yg ringan, aroma yg berkesan seperti arang, dahulu bercampur dengan gurih dan sedikit manis.

Konon, ini adalah menu sarapan yg bakal memberi pasokan tenaga besar. Butter coffee dikenal juga sebagai bulletproof coffee. Istilah yg muncul karena sarapan kopi itu memberi tenaga lebih besar, membuat peminumnya seolah kebal peluru atau sekadar memberi tenaga bagi menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari.

Pesanan aku yg yang lain adalah roti panggang isi butter. Sebenarnya ada pilihan lain, seperti roti panggang isi selai kaya atau telur rebus setengah matang dengan taburan merica dan garam. Untuk menu yang  lebih berat, Anda mampu mencicipi bakpao atau char kway tiao yg dapat dipesan dari penjual yang lain di ruangan yg sama.

Saya memilih menu ringan saja. Dua piring roti panggang bersisipkan butter, dan sesuatu gelas butter coffee yg isinya lebih kurang 350 ml telah sangat mengenyangkan. Setidaknya, aku tidak merasa butuh makan siang hingga pukul 3.00 sore hari itu.

Jangan khawatir soal harga. Untuk semua sarapan itu, aku cuma menghabiskan 3,30 dollar Singapura atau setara Rp 32.000. Jauh lebih murah ketimbang memesan 330 ml kopi di kedai modern yg berkisar di harga 5 dollar Singapura atau setara Rp 50.000.

Bila Anda sedang berada di Singapura atau berencana mengunjunginya, sempatkanlah waktu bagi berkunjung dan ngopi di Heap Seng Leong. Mungkin saja dalam dua tahun mendatang kopitiam tradisional seperti ini mulai seluruhnya punah digantikan yg lebih modern.

Cara Mencapai Heap Seng Leong

Kamu tidak butuh waktu berjam-jam bagi dapat menemukan tempat tersebut. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Bila menginap di sekitar Stamford Rd, cukup berjalan ke stasiun MRT terdekat dan carilah jurusan Lavender.

Dari stasiun Lavender keluarlah ke arah Kallang Rd dan berjalanlah ke arah Crawford St. Setelah menyebarangi jembatan yg melintasi Rochor River, carilah North Bridge Rd Market & Food Center.

Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Di sudut lorong Singapore North Bride Rd Food and Market Centre inilah berdiri kopitiam Heap Seng Leong

Heap Seng Leong berada di sisi yang lain bangunan pasar tersebut, tepat menghadap ke arah apartemen pemukiman North Bridge Rd. Ada sebuah papan nama dalam huruf Mandarin dan latin di bagian depan toko.

Kopitiam ini buka sejak pukul 4.00 pagi hingga pukul 8.00 malam. Jadi bila Anda ingin sarapan sepagi mungkin dan restoran hotel belum buka, cobalah mendatanginya.
Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter