Home » Otomotif » Mengapa Modifikasi Memakan Waktu Lama?

Mengapa Modifikasi Memakan Waktu Lama?

Jakarta, KompasOtomotif – Tidak sedikit proyek modifikasi sepeda motor yg selesai dalam jangka waktu lama, atau di luar dari jadwal yg direncanakan. Kalau tak sabar-sabar, tentu ini mulai sangat menjengkelkan.

Ariawan Wijaya, builder yg juga pemilik bengkel modifikasi Baru Motor Sport (BMS) di Palmerah Barat, mengatakan, berdasarkan pengalamannya, ada dua faktor yg membuat keadaan itu kerap terjadi, terlepas daripada kualitas bengkel modifikasi tersebut.

“Pertama, lamanya pengerjaan biasanya terjadi karena si pemodifikasi tak membuat rundown atau timeline pengerjaan yg jelas sebelum proyek dimulai. Jadi waktu penyelesaian yg dijanjikan biasanya berdasarkan feeling. Ini kerap dilupakan,” ujar Ari kepada KompasOtomotif, Rabu (20/7/2016).

Ari menambahkan, pemodifikasi juga sebaiknya menjanjikan waktu lebih lama atau memberi spare time. “Kasih spare waktu yg agak jauh, karena kami tak mampu memprediksi mulai ada kendala apa di tengah pengerjaan. Jadi kami kasih pahitnya di awal agar konsumen tak mengeluh karena penyelesaian proyek di luar batas waktu yg ditentukan,” tutur Ari.

Kedua, kata Ari, terkait cara kerja, modifikasi menjadi lama karena pemodifikasi tak menyediakan terlebih lalu segala komponen yg dibutuhkan oleh sepeda motor. “Jika ingin cepat, pastikan segala komponen telah tersedia, sebelum seluruh proses modifikasi dilakukan,” ucap Ari.

Terakhir, kata Ari, ini juga menyangkut poin nomor dua, merupakan terkait cash flow atau arus kas dari si pebisnis modifikasi, apakah sehat atau tidak. Tidak sedikit pebisnis modifikasi yg arus pendanaannya gali lubang tutup lubang, di mana uang proyek A, digunakan bagi proyek B, dan seterusnya.

“Jika ada cash flow di sistem keuangan perusahaan modifikasi tersebut, maka belanja komponen (belanja modal) mampu dikerjakan di awal proyek, yg membuat pengerjaan cepat dilakukan. Karena biasanya konsumen baru melakukan pembayaran uang muka, di mana belum menutup segala kebutuhan,” ujar Ari.

“Melalui cash flow, pemodifikasi tak perlu menunggu proyek B bagi mampu menutupi kekurangan di proyek A. Itu mulai membuat bisnis sehat sehingga seluruh proyek mampu berjalan lancar,” ucap Ari.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter