Home » Travel » Jangan Pulang Dari Darwin Tanpa Lihat Buaya

Jangan Pulang Dari Darwin Tanpa Lihat Buaya

DARWIN, KOMPAS.com – Puluhan buaya asyik berjemur di tepi kolam luas, siang itu pada akhir Mei 2016. Mata dari sebagian budaya tampak setengah tertutup, seolah selalu berjaga di atas tepi kolam yg dialasi semacam terpal plastik berwarna hitam.

Saat pintu kawat dibuka, sebagian besar buaya segera bergerak dengan sangat cepat masuk ke dalam air. Saking cepatnya, suara keras empasan ekor buaya ke terpal mengagetkan orang yg masuk ke area kolam yg disebut Attack Lagoon di Crocodylus Park and Zoo.

Namun, sebagian buaya dengan panjang sekitar 1 meter masih berjemur meskipun dengan mata yg telah terbuka lebar tanda sedang awas.

“Hati-hati, jangan terlalu dekat,” kata Kenny Peckham, seorang remaja keturunan Aborigin yg sedang menjadi pegawai magang di tempat ini.

***

Selain kanguru, koala dan tasmanian devil, buaya air asin termasuk salah sesuatu fauna khas Australia. Buaya air asin yang berasal Australia konon yaitu hewan reptil terbesar di dunia.

Populasi buaya di Northern Territory terhitung paling besar di seantero Australia, bahkan lebih banyak daripada di Queensland dan Western Australia.

Situs nt.gov.au mencatat, buaya di Northern Territory pada ketika ini diperkirakan mencapai 100.000 ekor. Jumlahnya selalu meningkat karena adanya larangan berburu buaya.

Pemerintah Australia melalui situs resmi environment.gov.au mencatat bahwa jumlah buaya di Australia meningkat sejak diberlakukannya UU Perlindungan Buaya, merupakan masing-masing pada tahun 1970 di Western Australia, tahun 1971 di Northern Territory dan pada tahun 1974 di Queensland.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Crocodylus Park di Darwin, Northern Territory, Australia.

Oleh karena itu, melihat segera buaya air asin Australia pantang bagi dilewatkan seandainya sedang berada di Darwin, ibu kota Northern Territory. Sejumlah penangkaran yg ada di kota ini mampu dikunjungi, bahkan telah dijadikan sebagai tempat wisata edukasi sekaligus peternakan buaya.

Crocodylus Park and Zoo yaitu salah sesuatu penangkaran buaya sekaligus destinasi wisata edukasi di Darwin. Lokasinya sekitar 14 km dari pusat kota.

Taman buaya yg didirikan oleh seorang profesor biologi ini berdiri pada tahun 1994. Giovanna Webb, pengelola sekaligus istri dari pemilik taman buaya ini mengatakan, Crocodylus Park memiliki 23 spesies buaya dari segala dunia, baik buaya air asin maupun buaya air tawar.

“Kami berusaha membuat taman buaya ini semirip mungkin dengan habitat aslinya,” kata Giovanna.

Ada beberapa lagoon di penangkaran ini dan sejumlah kandang berderet buat buaya. Lagoon biasanya diisi buaya yg masih berusia muda hingga usia produktif, sedangkan di kandang biasanya buaya-buaya berukuran sangat besar atau dengan keadaan khusus.

Harold, misalnya, adalah buaya air asin berukuran raksasa yg tinggal di breeding pens. Panjangnya mencapai 4,51 meter dan beratnya sekitar 530 kilogram.

Giovanna mengatakan, pantang buat menempatkan buaya jantan dalam sesuatu tempat karena mereka mulai saling memangsa. Oleh karena itu, Harold berada di sesuatu kandang sendiri, di seberang kandang buaya jantan lainnya, Bruce.

Keduanya tidak jarang menjadi tontonan para turis yg mengambil paket wisata edukasi di Crocodylus Park and Zoo, terutama ketika mereka tengah diberi makan. Daging diikat di semacam alat pancing yg dipegang oleh pemandu dahulu diturunkan mendekati permukaan air tempat Harold berada.

Mencium bau daging segar, Harold dahulu muncul ke permukaan. Si pemandu menaikkan pancingnya, Harold pun akan mengikutinya. Pada ketika itu, Harold mulai melompat bagi menjangkau daging tersebut. Aksi Harold dan teman-temannya di breeding pens ini biasa disebut crocodile jump.

Setelah melihat Harold dan Bruce makan siang, pengunjung ditawarkan bagi semakin dekat dengan buaya air asin.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Emilio Moreen (kiri) dan Kenny Peckham, beberapa remaja keturunan suku Aborigin, penduduk asli Australia, ketika menjadi pegawai magang di Crocodylus Park and Zoo di Darwin, Northern Territory, Australia.

Kenny tiba-tiba tiba membawa seekor bayi buaya air asin di tangannya. Panjangnya cuma sekitar 30-40 sentimeter. Kenny mengatakan, si bayi buaya telah berusia sesuatu tahun.

Saat itu, mulut bayi buaya diikat dan matanya terbuka lebar.

“Meskipun masih bayi, giginya telah sangat tajam. Sudah diikat pun kalian harus tetap hati-hati,” tambah Kenny sambil mengajarkan cara memegang bayi buaya yg benar.

Menurut Giovanna, para turis yg mengambil paket wisata dapat merasakan pengalaman ini dahulu berfoto bersama. Lalu selain melihat buaya, pengunjung juga mampu melihat sejumlah hewan lain, seperti babon, singa putih, emu, burung unta, harimau, kura-kura, kuda, kanguru, kakatua, hingga banteng.

Dari telur jadi tas

Giovanna mengatakan, karena berburu buaya dilarang, pihaknya turun mengambil langkah menolong pengendalian populasi buaya dengan mengambil telur buaya dari alam liar dan tak mengawinkan buaya. Strategi ini mendapat izin dari pemerintah.

“Kami memakai strategi bagi mengendalikan populasi buaya. Orang yang lain dapat mendapatkan manfaatnya dan kalian tetap dapat mengendalikan populasi buaya,” tuturnya.

Di Northern Territory, lanjut Giovanna, Crocodylus Park and Zoo mengambil telur buaya dari alam sesuatu kali setahun, merupakan dalam rentang waktu Desember hingga Februari. Telur-telur itu dahulu dibawa ke penangkaran dan dirawat hingga menetas.

“Anak buaya itu tumbuh sangat cepat,” ucapnya.

“Karena begitu banyak anak buaya di sini, kalian juga memproduksi kulit buaya. Jadi taman buaya ini tak cuma menampilkan atraksi buaya, tapi berbisnis peternakan dan kulit buaya,” lanjut Giovanna.

Anak-anak buaya yg dikembangbiakkan dulu mulai dipanen kulit hingga dagingnya. Kulitnya mulai diolah menjadi berbagai produk fesyen, akan dari ikat pinggang, dompet hingga tas.

“Kulit buaya dari Australia yaitu yg terbaik. Perusahaan fesyen dunia terus menginginkan kulit buaya dari sini,” ungkapnya.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Daging buaya mentah dijual di Crocodylus Park di Darwin, Northern Territory, Australia.

Giovanna dulu melanjutkan, daging buaya dahulu dijual buat diolah menjadi kuliner khas Northern Territory. Di kafetaria di taman buaya ini, sejumlah menu berbahan dasar daging buaya dijual, sebut saja crocodile burger yg dibanderol dengan harga 9,5 dollar Australia hingga Croc dogs – semacam hotdog – seharga 7,5 dollar Australia.

Sayang, siang itu, seluruh kuliner dari daging buaya telah ludes terjual. Yang tersisa cuma daging mentah buaya bersiap jual di lemari pendingin. Tinggal pilih, ada tail fillte, ribs, eye fillet, hingga telah berbentuk daging burger atau sosis.

“Teksturnya kurang lebih seperti daging ayam,” kata Giovanna.

Indonesia dipuji

Saat masuk atau keluar Crocodylus Park, para pengunjung terus melewati toko suvenir berbahan dasar kulit buaya dan kafetaria di sebelahnya. Ada tas, dompet, ikat pinggang dan produk fesyen lainnya. Ada yg digantung di tempat terbuka, biasanya yg berharga murah, ada pula yg dipajang di lemari kaca.

Tas dan dompet mendominasi barang-barang yg disimpan di dalam kaca. Harganya akan 100 dollar Australia hingga ribuan dollar Australia.

Giovanna menyampaikan bahwa sejumlah partner bisnis kulit buaya di Australia yg ingin menghasilkan produk jadi sudah bekerja sama dengan para perajin dari Indonesia, sebagian besar perajin dari Bandung, Jawa Barat.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Giovanna Webb, pengelola Crocodylus Park and Zoo di Darwin, Northern Territory, Australia, memamerkan produk fesyen dari kulit buaya.

Salah sesuatu tas yg dipegang Giovanna siang itu adalah salah sesuatu contoh karya perajin yang berasal Bandung.

“Kami memiliki hubungan yg dekat dengan perajin dari Indonesia. Kami biasanya mengirim kulit buaya ke Indonesia bagi diolah dan dibuat menjadi produk jadi, seperti tas, sepatu dan barang-barang menarik lainnya,” ujarnya.

Giovanna mengatakan, dalam dua waktu kerja sama, hasil pengolahan para perajin dari Indonesia memamerkan kemajuan, meskipun masih belum sebagus hasil olahan perusahaan fesyen dunia yg memerhatikan detail dan pengolahan yg rumit.

Namun demikian, lanjut Giovanna, para perajin dari Indonesia menawarkan harga yg jauh lebih murah. Dia enggan menyebutkan harga dasar dari perajin Indonesia, tapi tas tangan berukuran sedang yg dijualnya, misalnya, dibanderol dengan harga 1.500 dollar Australia atau sekitar Rp 15 juta.

“Perajin Indonesia sangat memuaskan karena kualitas produknya yg sangat bagus. Biaya produksi di Indonesia lebih murah, tapi kualitasnya tetap terjaga,” kata Giovanna.

“Dengan harga yg lebih murah karena diproduksi di Indonesia, kalian mampu mendapatkan produk kulit buaya dengan kualitas tinggi dan bagus sehingga mampu memberikan banyak pilihan kepada para pembeli,” ungkapnya kemudian.

 

KOMPAS.com/Caroline Damanik Pintu masuk Crocodylus Park and Zoo di Darwin, Northern Territory, Australia.

 

(Tulisan ini yaitu bagian dari program “Jelajah Australia 2016”. Kompas.com sudah meliput ke berbagai pelosok Australia pada rentang 14 Mei – 15 Juni 2016 atas undangan ABC Australia Plus. Di luar tulisan ini, masih ada artikel menarik lainnya yg sudah disiapkan terbit pada Juli hingga akhir Agustus 2016. Anda mampu mengikuti artikel lainnya di Topik Pilihan “Jelajah Australia 2016”.)

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter