Home » Otomotif » Intim Dengan Motor MotoGP Marquez (3-habis)

Intim Dengan Motor MotoGP Marquez (3-habis)

Bogor, KompasOtomotif – Saat merasa nyaman berada di atas RC213V-S, KompasOtomotif akan terbiasa dengan karakternya. Aura magis yg membuat grogi di awal akan lenyap seiring dengan ”kejutan-kejutan” yg didapatkan selama menyusuri Sirkuit Sentul, Bogor, (22/7/2016).

Sepeda motor ini telah dilengkapi quick shift, membuat perpindahan gigi atas tidak jauh mengurangi tenaga. Tinggal congkel ke atas, tak usah mengendorkan akselerator, juga tidak perlu tarik tuas kopling. Pindah gigi RPM 10.000 rasanya telah tak ada tanding.

Teringat ucapan Tetsuo Suzuki, Operating Officer, Representative of Motorcycle Development, Purchase and Production for Motorcycle Operations Honda Motor Co. Ltd, yg menyatakan bahwa teknologi ride by wire dari MotoGP yg diturunkan bagi RC213V-S sangat menolong motor menemukan performa maksimal.

Jika KompasOtomotif mampu menyentuh lebih dari 180 kpj dengan CBR1000RR, entah berapa kecepatan maksimal yg mampu redaksi bisa ketika ”ditarik” di trek lurus Sirkuit Sentul. Perasaan jauh lebih kencang, 200 kpj saja sih lewat.

Ya, KompasOtomotif tidak dapat melihat kecepatan yg didapat ketika naik RC213V-S, karena panel meter telah diganti dengan versi sports kit. PT Astra Honda Motor (AHM) menyatakan bahwa spidometer asli bawaan versi standar mulai menampilkan kecepatan.

Baca juga: Intim dengan Motor MotoGP Marquez (1)

Ringan
Kejutan yang lain selain tenaga dahsyatnya adalah ternyata motor ini sangat enteng. Bahkan dibandingkan CBR1000RR yg dijajal pada sesi pertama, KompasOtomotif merasa RC213V-S jauh lebih ringan. Setelah dikroscek, bobot hanya di kisaran 170 kg, atau mirip-mirip dengan motor 250 cc.

Istimewa Honda RC213V-S sangat ringan dikendalikan.

Berbagai komponen yg terbuat dari titanium (termasuk mesin), berkontribusi besar bagi membuat sepeda motor sangat ringan. Pantas…

Tapi tidak hanya enteng. Insinyur Honda berhasil membuat sepeda motor ini lincah juga berkat kolaborasi antara sentralisasi bobot, sasis, hingga sudut-sudut kemiringan kaki-kaki yg pas. Ini pula yg membuat KompasOtomotif lebih pede ”merebahkan diri” ketika belok di tikungan ”S” kecil atau besar.

Justru, dalam hal ini, handling dan kelincahan telah bukan menjadi masalah. KompasOtomotif justru merasa harus lebih hati-hati dengan power yg sangat besar. Manajemen pengontrol kecepatan dari diri sendiri menjadi kunci.

Tentu, ini adalah perspektif rider harian yg mencoba diposisikan KompasOtomotif dari awal ketika mulai menggeber RC213V-S. Kesannya luar biasa, dan mungkin ini mulai sulit bagi dilupakan. (habis)

Baca juga: Intim dengan Motor MotoGP Marquez (2)

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter