Home » Teknologi » Hantu Pun Membantu Penjualan Ponsel Baru

Hantu Pun Membantu Penjualan Ponsel Baru

KOMPAS.com – Produk teknologi seperti ponsel pintar terus diperkenalkan sebagai satu yg futuristik atau tiba dari masa depan. Akan tapi Lenovo lebih memilih suasana rumah angker lengkap dengan hantu seperti pocong dan kuntilanak sewaktu launching ponsel kelas menengah mereka yakni Vibe K5 Plus di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (19/7/2016).

Vibe K5 Plus yg dikenal dengan nama Lemon 3 di pasar Tiongkok yaitu kelanjutan dari seri sebelumnya yakni Vibe K4 Note. Keduanya memiliki benang merah yakni fitur yg mengeksplorasi teknologi realitas virtual (VR) dengan perangkat yg dioptimasi buat melihat konten melalui perangkat tambahan yakni kaca mata VR. Alat buat melihat konten VR tersebut biasanya digratiskan bagi setiap pembelian sesuatu unit dalam masa promosi.

Dari lembar spesifikasinya, Vibe K5 Plus memiliki komposisi perangkat keras yg mumpuni dengan harga yg terjangkau yakni Rp 2,5 juta. Para pengguna dengan harga tersebut telah dapat memiliki ponsel dengan prosesor delapan inti berkecepatan 1,5 gigahertz dengan chipset Snapdragon 616 dari Qualcomm. Satu hal yg mengagumkan adalah kapasitas RAM yg mencapai 3 gigabita meskipun Lenovo juga menyiapkan varian harga lebih terjangkau dengan RAM berkapasitas 2 gigabita.

Bentang layar ponsel ini adalah 5 inci dengan resolusi definisi tinggi penuh atau 1080×1920 piksel sementara kamera di punggung memiliki resolusi 13 megapiksel yg dipasangkan dengan kamera depan 5 megapiksel. Memiliki badan berbahan metal yakni aluminium, penyimpanan internal ponsel ini berkapasitas 16 gigabita. Lubang kartu memori memungkinkan pengguna bagi mendongkrak kapasitas penyimpanan internal menjadi 132 gigabita.

Dan ponsel yg cukup terjangkau ini juga diperkenalkan dengan balutan tema horor. Country Lead Lenovo Indonesia, Adrie Suhadi, tak tampil segera ketika peluncuran produk tetapi malah tampil sebagai bagian dari konten VR yg diputar ketika acara. Dia berdiri membelakangi rumah yg kelihatan angker sementara di depannya berjajar hantu-hantu seperti babi ngepet, pocong, tuyul dan kuntilanak. Di sana, Adrie menjelaskan fitur dan kelebihan produk sementara pengguna yg menggunakan kaca mata VR mampu menengok buat melihat detail yg lain.

Lisensi

Horor yaitu strategi yg diambil Lenovo buat mempromosikan teknologi VR yg dihadirkan kembali lewat seri Vibe K5 Plus mereka. Alasannya cukup jitu karena horor mampu mengedukasi pengguna mulai keunggulan teknologi VR yg bisa menghasilkan realitas baru untuk mata mereka. Menjerit ketakutan karena kejutan yg tiba dari berbagai penjuru yaitu pengalaman yg sulit dilupakan.

Untuk itu Lenovo memilih Digital Happiness sebagai mitra, sebuah studio pengembang gim dari Bandung yg dikenal karena launching karya dengan nama DreadOut yg dimainkan di komputer. Proyek ini sebelumnya cukup sukses menggalang dana dari situs urunan Indiegogo hingga kemudian dijual reguler di pasar gim digital Steam.

Kisah DreadOut menempatkan Linda Melinda sebagai tokoh protagonis yg harus mengungkap misteri dari sebuah kota ketika dia bersama teman-temannya terjebak di sana. Berbekal kamera, dia harus menghadapi kawanan hantu yg gentayangan di sepanjang perjalanannya sembari pelan-pelan mengungkap misteri yg menyelimuti kota itu.

Suasana tersebut diboyong ke dalam permainan VR bagi perangkat telekomunikasi bergerak. Selain bekerja sama dengan membeli lisensi dari DreadOut bagi pemasaran mereka, Lenovo juga mulai mendapatkan konten khusus berupa permainan yg memiliki tema serupa dan dilakukan oleh tim yg sama.

Versi awal dari permainan khusus ponsel ini menempatkan pemain di sebuah lapangan dengan pohon besar dan dua bangunan kosong. Pemain bergerak di kegelapan malam cuma mengandalkan cahaya senter. Perspektif pemain berubah sesuai gerakan kepala berkat sensor giroskop di ponsel, sementara perangkat pengendali yg dihadirkan bersama ponsel pintar tersebut digunakan bagi manuver sekaligus mengambil gambar para hantu sebagai cara mendapatkan poin di permainan.

Lenovo berencana bagi membuat permainan ini menjadi sarana buat membangun pencitraan dari ponsel mereka. Saat mengelilingi mempromosikan Vibe K5 Plus, mulai digelar turnamen dari permainan DreadOut buat mencari pemain yg mampu meraih nilai paling banyak.

Rahmad Imron dan Dito Suwardita adalah beberapa orang di balik proyek DreadOut yg menyatakan kebahagiaannya atas keputusan Lenovo tersebut. Meski tak menyebut soal nominal dari lisensi dari kisah DreadOut tersebut, hal yg lebih membahagiakan mereka adalah ketika hak kekayaan intelektual atau intellectual property yg mereka bangun sudah mendapatkan pengakuan.

Tidak cuma mendapatkan hasil dari penjualan gim mereka di kanal seperti Steam, kisah horor di sekitar DreadOut pun mampu dijual.

Selain proyek DreadOut, sebetulnya tim Digital Happiness juga tengah mengembangkan proyek gim horor lainnya yakni Dread Eye yg memiliki kisah dan tokoh yg berbeda tetapi secara khusus dikembangkan bagi teknologi VR, kali ini memakai teknologi Oculus dengan terhubung ke komputer. Namun, kata Rahmad, pihak Lenovo tetap memilih bagi menghadirkan DreadOut karena telah memiliki reputasi lebih mentereng di Indonesia.

“Kami tetap bersyukur karena kerja sama ini menjadi peluang buat riset sembari mengembangkan IP kami,” kata Dito.

Aplikasi

Sejak launching Vibe K4 Note dua bulan sebelumnya, Lenovo juga memastikan bahwa fitur VR dari perangkat mereka memiliki ekosistem aplikasi yg mendukung. Salah sesuatu cara adalah kolaborasi bersama Dicoding, sebuah lembaga yg menggandeng para pengembang aplikasi dan gim bagi menyediakan konten dengan spesifikasi tertentu, kali ini berupa tantangan buat membuat permainan VR.

Bersamaan dengan peluncuran seri penerus tersebut, Dicoding melanjutkan tantangan membuat permainan VR dengan kategori tambahan. Dua hal yg kini harus dimasukkan adalah melibatkan kontrol dari perangkat pengendali serta memiliki papan klasemen agar sesama pemain dapat berkompetisi. Dua hal tersebut jelas memaksa para pengembang bagi meningkatkan kualitas sekaligus kompleksitas dari permainan mereka.

Dalam waktu 19 hari, tantangan Dicoding jilid beberapa tersebut berhasil mengumpulkan 30 lebih peserta.

Satu hal yg pasti, semua konten yg mereka bagi sebetulnya juga mampu dimainkan oleh ponsel pintar dari merek yang lain yg juga dilengkapi sensor giroskop, serta kaca mata VR dengan merek apa pun. Namun, CEO Dicoding Narenda Wicaksono menjelaskan bahwa perbedaan terletak pada optimisasi konten yg dari awal diniatkan buat dibuat sesuai spesifikasi yg dimiliki Vibe K5 Plus.

“Yang penting adalah menyesuaikan konten VR dengan ukuran layar dan kapasitas RAM yg dimiliki. Permainan yg dioptimalkan buat ukuran layar dan spesifikasi tertentu mulai mampu dijalankan dengan lebih lancar ketimbang ponsel dengan pengaturan lain. Begitu pula desain dari kaca mata VR supaya dapat digunakan dalam waktu yg lama,” kata Narenda.

Konten yg dibuat secara sengaja seperti ini, kata Narenda, dapat menolong bagi mengedukasi masyarakat mengenai teknologi VR. Harga jual ponsel ditambah kaca mata VR membuat teknologi ini bersiap buat dipasarkan secara massal.

Tidak ada

Sayangnya konten yg berhasil diciptakan hingga kini masih tersebar tanpa dikumpulkan oleh Lenovo. Ada yg dipasang pengembangnya di pasar aplikasi seperti Play Store, tetapi ada juga yg dipasang di situs Dicoding seperti dikerjakan Digital Happiness dengan DreadOut versi perangkat bergerak.

Alih-alih mendapatkan permainan eksklusif itu telah tersedia sejak membuka kemasan, atau diistilahkan dengan preload, pengguna harus mengunduh sendiri file di situs Dicoding yg berukuran 200 megabita lebih.

Manajer Pemasaran Bisnis Grup Mobile Lenovo Indonesia, Miranda Vania Warokka, membenarkan hal tersebut. Saat ini tak ada konten yg ditanamkan secara otomatis ke dalam ponsel yg mereka jual nanti. Salah sesuatu alasannya adalah tak ada tim yg mengkurasi konten bagi wilayah Indonesia sedangkan ketika ini semuanya dikerjakan oleh kantor pusat.

“Seleksi di kantor pusat membutuhkan waktu yg cukup lama yakni sekitar 6 bulan. Kami tak mulai sempat mengajukan konten bagi preload sementara penjualan harus dikerjakan dalam waktu lebih singkat,” kata Miranda.

Pada ketika yg sama, Miranda menyadari bahwa keputusan tersebut membuat Lenovo kehilangan kesempatan buat mendongkrak komponen lokal seperti disyaratkan pemerintah melalui kebijakan tingkat kandungan dalam negeri. Setidaknya ketentuan tersebut telah dipenuhi melalui fasilitas perakitan ponsel mereka di dalam negeri.

Meski demikian, ini adalah langkah yg positif bagi mendorong konten-konten dalam negeri buat mewarnai produk yg dijual bagi pasar Indonesia. Bahkan kuntilanak dan pocong pun mampu menolong penjualan ponsel.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter